- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps
oleh
Penguatan Gerakan Intelektual
Sebagai Basis Rekonstruksi Politik Kebudayaan
Ketika kapitalisme mengambil tampuk
panglima, eksesnya adalah kesadaran diarahkan pada kalkulasi ekonomis dari
setiap aktivitas manusia. Ia menciptakan realitas teknologis yang hegemonik.
Praktik-praktik kebudayaan tak lebih dari sebuah alur operasional segala wacana
hegemonik yang mengarahkan kita pada skema narasi besar (master narrative).
Jika penandaan eksistensi manusia terhadap alam semesta melahirkan kebudayaan,
maka saat ini penandaan tersebut diarahkan dalam skema wacana tunggal yang melahirkan
kebudayaan sebagai praktik yang tunggal pula. Ruang-ruang kehidupan manusia,
dari yang publik hingga yang paling intim sekalipun seperti agama, menjelma
praktik-praktik teknis hampa makna tergerus habis di hadapan sang kuasa wacana.
Penghujung abad dua puluh lahir satu
bentuk ideologi mapan yang berusaha mengakuisisi setiap sudut kesadaran
manusia: demokrasi liberal dan anak kandungnya kapitalisme global. Keduanya
hadir bagai secarik resep dokter yang menuntut lekas dibayar tunai. “Tak ada
jalan lain, semuanya sudah berakhir” begitu kira-kira kata Francis Fukuyama
sang arsitek kebijakan luar negeri Paman Sam (Fukuyama;1992). Baginya, evolusi
ideologi terkulminasi dengan berkibarnya bendera demokrasi liberal dan
kapitalisme sebagai sebuah tonggak pencapaian umat manusia. Di sini Fukuyama
menolak mentah-mentah segala ramalan Karl Marx tentang mimpi masyarakat tanpa
kelas ala komunisme.
Tentu saja Marx tidak menyangka
bahwa kini Kapitalisme berubah lentur sekaligus kenyal. Deferensiasi kelas
antara pemodal dan pekerja tidak lagi hadir sebagai realitas objektif, namun ia
mengalami proses dialektika dengan praktik-praktik diskursif dalam masyarakat.
Seorang buruh pabrik di Tangerang mampu membeli tiruan Blackberry hanya untuk
mengidentfikasi dirinya dengan imajinasi kelas gedongan yang kerap hadir dalam
utopia sinetron-sinetron Om Ram Punjabi. Sang buruh tak lagi hanya menjadi
mesin produksi, namun juga ia menjadi mesin penyerap segala hasil produksinya.
“Siapa pun anda, silahkan nikmati sepuasnya!” begitu kira-kira adagium yang
berlaku.
Maka lahirlah komodifikasi gaya
hidup. Ia berjalan alamiah menghasilkan kedangkalan. Mitos-mitos kemajuan dan
kemodernan membanjiri kita tak henti-hentinya. Mitos adalah proses konotasi
yang terus-menerus terjadi dalam masyarakat hingga akhirnya diterima bagai
sebuah praktik alamiah belaka (Barthes; 1967). Pada saat bersamaan mitos
berubah wujud menjadi ideologi ketika negara, sekolah hingga media
mengakomodasi dan ikut serta memproduksinya. Sebagai contoh, pendidikan. Jangan
bayangkan pendidikan sebagai sebuah ideal kemanuasiaan karena ia tak lebih
sebagai instrumen pengukuhan kelas dominan. Piere Bourdieu, seorang sosiolog
Prancis mengatakan bahwa pendidikan menjadi arena produksi kelas terdidik yang
pada akhirnya mengisi ruang-ruang korporasi dan birokrasi (Bourdioue; 1977).
Dari merekalah mekanisme produksi wacana kebudayaan semakin bertaring.
Tampaknya kanal-kanal resistensi tertutup rapat. Pada akhirnya politik
kebudayaan kita tak lebih dari praktik hegemonik produksi nilai kelas dominan
yang naasnya justru lahir dari rahim pendidikan.
Alternatif Mengada
Manusia sebagai salah satu makhluk
ciptaan-Nya, menempati posisi yang istimewa. Keistimewaan itu terletak pada
kemampuannya untuk memahami tentang segala hal termasuk dirinya sendiri. Pada
kehidupannya, manusia tak hanya menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri,
melainkan juga sekaligus sebagai cermin atas realitas dari proses persepsi yang
dilakukannya. Persepsi yang coba dikemukakan dari proses pengamatan dan interpretasi
itu adalah gambaran dari kebudayaan yang sedang atau telah lampau dijalaninya.
Selain proses pengamatan dan interpretasi, realitas dalam proses pencerapannya
juga bersinggungan dengan komunitas dan juga simbol untuk menghadirkan sebuah
realitas yang sedemikian kaya makna. Dengan begitu dapat dikatakan kebudayaan
hadir dari pengamatan manusia yang didasari oleh latar ideologis yang
membentuknya. Franz Magnis Suseno menyatakan bahwa kebudayaan
adalah seluruh hamparan alam semesta
sejauh telah ditandai oleh eksistensi manusia (Hikmat Budiman: 2008).
Pelbagai macam kalimah dalam ayat
al-Qur’an yang berarti “manusia”, seperti basyar, insan, nas, unas, ins, imra’,
rajul, atau yang mengandung pengertian perempuan seperti, imra’ah, nisa atau
niswah. Selain itu, berbagai jenis manusia yang telah terbentuk dalam ciri-ciri
personalitas seperti al-atqa, al-abrar, atau ulu al-albab, juga manusia sebagai
bagian dari kelompok sosial, seperti al-ashqa, dzu al-qurba, al-dhu’afa, atau
al-mustadh’afin, yang semuanya mengandung berbagai petunjuk mengenai manusia
dalam hakikatnya dan manusia dalam bentuknya yang kongret (Rahardjo: 2005).
Kata dalam ayat itu, sekiranya dapat
dipahami adanya manusia itu belum mampu menghadir untuk memperoleh pengetahuan
tentang apa yang ada (das sein) dan bukan tentang apa yang seharusnya ada (das
sollen), yang bersifat transenden dan bukan pada rumusan deduktif-monologis.
Disinilah tugas “pemikir yang tercerahkan” untuk menjadikan seluruh hamparan
alam semesta bermakna sebagai ciptaan-Nya. Terlibat secara kritis dengan nilai,
tujuan, cita-cita yang mengatasi kebutuhan-kebutuhan praktis serta membentuk
lingkungannya dengan gagasan analitis dan normatif. Ia juga menafsirkan
pengalaman masa lalu masyarakat; mendidik masyarakatnya; melancarkan dan
membimbing pada pengalaman estetik dan keagamaan berbagai sektor masyarakat dan
menemukan kebenaran (Ali Syari’ati: 1993).
Bila kebudayaan sebagai struktur
utama masyarakat manusia-sebagaimana yang ditafsirkan oleh Morris Dobree dan
Oswald Spengler-, maka bahwa hidup, aktif dan matinya suatu masyarakat,
tergantung pada kebudayaan yang disandangnya (Ali Syari’ati: 1993). Ke-galau-an
masyarakat ditengah kondisi abjeksi ini, gerakan intelektual setidaknya hadir
untuk semakin menguatkan keberpihakannya, sekaligus sebagai daya-bangun
kebudayaan secara kritis dan tindakan yang berorintasi pada pencapaian
pemahaman. Penguatan gerakan intelektual sebagai politik etis kebudayaan
menempatkan seorang intelektual tak hanya berjibaku dengan dunianya sendiri,
tetapi dengan serta merta aktif berposisi untuk mewujudkan, memperbaharui atau
memperbaiki.
Daftar pustaka
Piere Bourdieu (1977), Reproduction
in Education, Society and Culture. London: Sage.
Roland Barthes (1967), The Elements
of Semiology. Hill & Wang.
Francis Fukuyama (1992), The End of
History and The Last Man. New York: Pinguin books.
Hikmat Budiman (2008), Lubang Hitam
Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.
Ali Syariati (1993), Ideologi Kaum
Intelektual. Bandung: Mizan.
Dawam Rahardjo (2005), Paradigma
Al-Qur’an: Metodologi Tafsir dan Kritik Sosial. Jakarta: PSAP.
Comments
Post a Comment